Friday, 7 February 2025

SEKAR (1)

postingan Novi 

Oleh: Maria A. Sardjono

BAYANG-BAYANG itu lama menimpa pekerjaan Sekar sehingga gadis itu merasa terganggu. Kepalanya menoleh ke arah ambang pintu, bermaksud menegur siapa pun yang berdiri di sana karena bayangannya mengganggu pekerjaannya. Tetapi jangankan mampu mengeluarkan kata-kata teguran, memegang piring yang sedang dicucinya saja pun tangan Sekar gemetar, sam-pai kehilangan kekuatan.

Cepat-cepat ia meletakkan piring yang berlumur busa sabun itu ke bak cuci piring kembali. Setelah mematikan keran air, tangan kirinya yang basah menyibak rambut yang terjuntai ke dahinya dan tangan kanannya yang masih penuh busa sabun diusapkannya kuat-kuat ke atas celemek yang melingkari perutnya. Matanya dikedipkannya berulang kali, hampir-hampir ia tidak memercayai penglihatannya. Bahkan nyaris mengira dirinya sedang berkhayal.

Halo, Ibu Guru? Laki-laki yang bayangan tubuhnya menimpa bak cuci piring itu mulai menyapa dengan senyum lebarnya yang simpatik. Kaget melihatku kembali?

Mendengar suara dan senyum itu hati Sekar bergetar hebat, sebab apa yang sedang dilihatnya itu benar-benar berbentuk seseorang yang berdarah dan berdaging. Bukan khayalan seperti sangkaannya semula.

Apa kabar, Bu Guru? Laki-laki yang belum mendapat tanggapan itu mengulangi sapaannya. Begitupun senyum lebarnya yang simpatik itu terkuak kembali, semakin mengganggu perasaan Sekar, sampai tiba-tiba gadis itu merasakan ada sesuatu yang meledak di balik dadanya. Dengan seketika, ia mulai memahami dirinya sendiri mengapa selama ini hatinya begitu tegar dan tak pernah tergoyahkan oleh panah asmara yang dilontarkan para pemuda yang menaruh hati kepadanya.

Bagai air bah yang mengepung dan menyergapnya, segala bayangan masa lalu yang selama ini tersimpan di relung hati Sekar tiba-tiba saja berhamburan ke dalam otaknya dan sekaligus mengait pemahaman baru pada dirinya bahwa apa yang meledak di dadanya tadi adalah suatu kenyataan. Dan bahwa laki-laki di hadapannya, yang telah mengisi setiap pengalaman hidup pribadinya dan yang tidak mungkin tersingkir dari ingatannya, mempunyai tempat istimewa dan khusus di hatinya.

Terlalu banyak yang membekas dan terlalu menukik ke dalam. Terlalu banyak pula kenangan yang pernah dilalui dan dialaminya bersama laki-laki itu, meskipun tidak selalu manis sebagaimana yang terjadi di masa kecilnya dulu.

Bermula, di suatu saat beberapa belas tahun lalu

ketika Sekar duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Waktu itu ia sedang bingung menghadapi pekerjaan rumahnya. Sama sekali dia tidak tahu bagaimana mengerjakan soal-soal hitungan yang harus diselesaikannya hari itu.

Padahal, esok pagi pekerjaan rumah itu harus dikumpulkan di sekolah.

Sebagaimana biasanya jika mengalami kesulitan belajar, ia akan pergi ke rumah induk dan langsung menemui Joko di kamarnya. Laki-laki remaja yang saat itu masih duduk di kelas dua SMP memang mendapat perintah dari kedua orangtuanya untuk membantu Sekar dalam mengerti pelajaran sekolahnya.

Tetapi sayangnya malam itu Joko sedang tidak dalam keadaan siap membantu. Dia sendiri pun sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang dirasanya kelewat banyak. Sulit pula soal-soalnya. Hatinya sedang kesal, sehingga ketika melihat kedatangan Sekar ke kamarnya, perasaan buruknya itu semakin menjadi-jadi.

Ada apa lagi? tanyanya dengan suara ketus dan kedua belah alis mata nyaris bertaut menjadi satu. Hmm, ada orang yang bisa dijadikan tempat pelampiasan rasa kesalnya.

Sekar mundur dengan hati mulai menciut. Buku yang ada di tangannya disembunyikannya ke balik punggungnya. Kepalanya langsung menggeleng dengan seketika.

Sa... saya kira Den Bagus (panggilan untuk anak laki-laki berdarah bangsawan) tidak sedang belajar...,

sahut gadis cilik itu agak terbata.

Joko tidak menyahut. Ditekuninya kembali pelajaran yang ada di bawah hidungnya itu dengan sikap acuh tak acuh. Baru kemarin sore Sekar menanyakan pelajaran yang dirasanya sulit. Kalau tidak salah ingat, pelajaran tata bahasa Indonesia. Sekarang entah apa lagi yang hendak ditanyakannya. Mengganggu saja.

Sekar yang menyadari ia datang bukan pada saat yang tepat, pelan-pelan mulai menarik kedua belah kakinya, bermaksud mundur untuk kemudian pergi menjauh dari tempat yang suhu udaranya sedang mengandung arus listrik itu. Matanya yang besar dan bagus itu berlumur kekecewaan yang amat kentara. Dia betul-betul tidak tahu bagaimana mengerjakan pekerjaan rumahnya. Percuma saja ia bertanya kepada ibunya, sebab Mbok Kromo tidak banyak mengingat pelajaran sekolah yang pernah diterimanya. Perempuan jebolan kelas dua SMP itu kalau ditanya Sekar tentang hal-hal yang terkait dengan apa yang pernah dipelajarinya dulu, jawabnya pasti demikian, Wah, Simbok sudah lupa. Tanyakan pada Den Bagus Joko saja....

Tetapi sekarang, Den Bagus Joko sedang tidak ingin diganggu olehnya.

Gerakan Sekar menyebabkan Joko melirik ke arah ambang pintu kamarnya. Mata besar yang biasanya indah namun sekarang tampak sarat kekecewaan itu tertangkap oleh penglihatannya. Serta-merta kegalakannya runtuh. Pada dasarnya dia menyayangi Sekar, sebab sejak kakak perempuannya yang jauh lebih tua itu menikah dan meninggalkan rumah, boleh dikata Joko bagaikan anak tunggal. Kehadiran Sekar di rumah ini sedikit mengikis perasaan kesepiannya sebagai anak tunggal.

Apalagi Joko sudah melihat Sekar sejak anak itu masih bayi. Bahkan bersama Mbak Endang, kakak perempuannya yang kini telah menikah, Joko ikut menjaga dan mengasuh Sekar jika Mbok Kromo sedang sibuk bekerja di dapur. Sejak bayi, gadis kecil itu telah mengisi rumah ini dengan keberadaannya berikut berbagai kelucuan, celoteh, serta suara nyanyiannya. Melihat tubuh Sekar yang pelan-pelan sedang bergerak pergi itu Joko segera memanggilnya.

Sekar... 

Sekar menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh ke arah anak remaja itu.

Ya... Den Bagus?

Soal apa yang ingin kautanyakan kepadaku? tanya Joko. Walaupun dia berbicara dengan bersungut-sungut tetapi Sekar mulai berbesar hati. Dia tahu betul, meskipun Joko kadang-kadang agak galak, tetapi sebenarnya hati anak itu baik. Karenanya ia melangkah masuk ke dalam kamar kembali dan meletakkan bukunya ke atas meja tulis Joko.

Soal berhitung, Den...

Ditunggunya Joko melihat buku pelajarannya, menunggu reaksinya, dan mengatakan pekerjaan rumahnya itu memang sulit. Tetapi, tidak. Dahi anak remaja itu malah berkerut kembali.

Lho, ini kan gampang! kata Joko sesudah memperhatikan buku yang terkembang di hadapannya sesaat lamanya. Kalau tidak salah, di kelas empat dulu kan sudah pernah dipelajari. Masa tidak bisa mengerjakannya?

Ya, waktu guru menerangkannya, saya sedang sakit dan tidak masuk sekolah, Den. Apalagi sekarang banyak pecahannya dan membingungkan sekali. Angkanya besar-besar. Susah, jawab Sekar.

Joko mendesahkan rasa jengkelnya.

Dulu kan sudah pernah kuterangkan mengenai soal-soal pecahan. Sudah kukatakan pula kalau angka pecahannya ditambah atau dikurangi, samakan lebih dulu angka penyebutnya. Nah, misalnya  ditambah . Penyebut angka  kan angka 2. Maka kita samakan dulu dengan angka penyebut yang lebih besar yaitu angka 4 pada pecahan . Jadi 2/4 ditambah , sama dengan . Kamu masih ingat apa yang kujelaskan seta-hun yang lalu itu, kan? sambil menjelaskan, Joko menu-liskan apa yang dikatakannya itu dengan gerakan kasar.

Kehadiran Sekar benar-benar telah mengganggu kesi-bukannya.

Sekar yang merasa bahwa Joko masih merasa kesal, diam saja. Matanya nyalang ke arah tulisan Joko tanpa mampu menangkapnya. Dulu sewaktu Joko menerangkan soal yang sama di ruang keluarga, mata Sekar lebih tertuju ke arah televisi berlayar lebar yang sedang menyajikan film anak-anak. Sekar memang tidak selalu mendengar sepenuhnya semua yang dijelaskan oleh Joko kepadanya.

Sekar yang dibesarkan dalam keluarga berada dengan berbagai daya tarik yang ada di sekitarnya, sering tergoda untuk tidak terlalu menaruh perhatian pada pelajarannya. Kalau Joko menjelaskan pelajaran di ruang keluarga, ia lebih tertarik pada film atau pada permainan piano Den Roro Endang, kakak perempuan Joko yang sering datang berkunjung ke rumah ini. Atau kalau Joko sedang menerangkan cara mengerjakan pekerjaan rumah di teras, mata Sekar lebih tertarik pada kupu-kupu indah yang beterbangan ke sana kemari dengan lincahnya. Atau pada burung liar mungil berbulu warna-warni yang sering datang ke halaman samping yang tertata indah dan dipenuhi tanaman bunga. Begitu juga kalau Joko menjelaskan apa pun yang ditanyakannya di kamar, Sekar lebih memperhatikan buku komik yang terkembang di atas meja tulis pemuda remaja itu. Atau pada lagu-lagu gembira yang sedang diputar Joko. Atau pula pada koleksi mobil-mobilan yang tertata rapi di rak kaca. Singkat kata, rasa tanggung jawab di hati gadis kecil itu belum tumbuh sempurna. Masih mudah terbelah.

Sekarang ditanya oleh Joko tentang apa yang pernah dijelaskannya, Sekar diam saja. Tidak berani menjawab.

Dia sadar, selama ini perhatiannya sering terpecah ke mana-mana kalau Joko sedang menjelaskan pelajaran yang tak dipahaminya. Kadang-kadang, Joko kehilangan rasa sabarnya kalau Sekar hanya diam saja dengan air muka tidak mengerti. Lebih-lebih jika kedatangan gadis cilik itu mengganggu urusan dan kesenangan hatinya.

Hey. . kamu mengerti atau tidak, Sekar? tanya Joko lagi dengan perasaan semakin kesal. Kok diam saja?

Sekar terpaksa menggelengkan kepalanya karena dia memang belum memahami apa yang diterangkan oleh Joko tadi.

Apa maksudmu menggelengkan kepala begitu? Jawab yang jelas! Joko mulai membentak.

Saya. . masih belum mengerti mengapa angka penyebutnya disamakan dengan angka empat dan bukan angka yang lain? Akhirnya dengan suara lirih Sekar terpaksa mengungkapkan apa yang masih mengganjal pemikirannya.

Tentu saja kita harus menyamakan angka penyebut yang bisa dipakai kedua-duanya. Kan tadi sudah kujelaskan. Angka penyebut  dan  ya harus disamakan dengan angka terbesarnya yaitu 4. Tetapi tidak asal yang paling besar saja, melainkan harus angka penyebut yang bisa dipakai oleh kedua pecahan itu. Angka 4 kan bisa dipakai untuk angka 1/2. Jadi berarti angka 4 itulah yang kita pakai untuk angka penyebutnya. Nah, sekarang mengerti, kan?

Sekar menggelengkan kepalanya lagi. Cara Joko menerangkan hitung-hitungan itu tidak mudah ditangkap.

Apalagi dengan terburu-buru dan sepertinya juga dengan ogah-ogahan.

Melihat gelengan kepala Sekar, Joko mengembuskan napas kesal. Dengan gerakan kasar, dia mulai menulis lagi.

Nah, perhatikan baik-baik, dengusnya. 1/8 + 1/3, bagaimana cara menjawabnya. Ingat, ambil angka penyebut yang bisa dipakai oleh kedua angka pecahan ini.

Baru nanti angka pembilangnya dikalikan. Nah, angka penyebut berapa yang bisa dipakai kedua pecahan itu?

Sekar terdiam berpikir sebentar.

Seperdelapan, sahutnya kemudian.

Salah, Sekar! Joko menggerutu. Mengapa kamu memilih angka delapan sebagai penyebutnya? Apa alasannya?

Tadi kan Den Bagus memberi contoh, jika  + , pakailah angka penyebut terbesar. Lalu Den Bagus mengatakan angka empat. Sekarang saya ya mengambil angka penyebut yang besar, yaitu 8. Begitu, kan?

Huh, bodoh betul sih kamu. Kuambil angka penyebut 4 karena kedua pecahan itu bisa memakai penyebut yang sama dengan angka terbesarnya, yaitu 4. Bukankah pecahan  sama dengan pecahan 2/4. Ya, kan?

Joko mulai bersungut-sungut. Tadi kan sudah kujelas-kan.

Sekar terdiam lama, baru kemudian mengangguk pelan. Melihat itu Joko menyodorkan soal yang dibuat-nya tadi.

Nah, jadi bagaimana cara mengerjakan 1/8 ditambah 1/3?

Sekar membacanya dengan mengeja perlahan angka pecahan yang disodorkan oleh Joko itu.

1/8 ditambah 1/3 sama dengan. . Sekar tidak melanjutkan. Dia mulai bingung lagi. Dahinya berkerut lama, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya yang mungil sehingga Joko menarik napas panjang dengan perasaan semakin jengkel.

Tadi katanya mengerti, sekarang melongo lagi. Apa sih yang ada di dalam pikiranmu? ia mulai membentak.

Susah sekali, Den, Sekar mengeluh dengan suara sumbang, menahan tangis yang sudah mulai naik ke lehernya.

Melihat itu lekas-lekas Joko meredam kejengkelannya.

Kalau Sekar menangis, pasti kedua orangtuanya akan memarahinya. Semua orang di rumah ini tahu, dia sering memperlakukan Sekar dengan agak galak. Semua orang di rumah ini juga tahu, betapa lembut dan halus perasaan Sekar.

Ya sudah. Nanti kamu pelajari sendiri dengan cermat. Ini kuberi contohnya. Penyebut 8 kan tidak bisa dipakai oleh penyebut 3 untuk bisa ditambahkan.

Maka kalikan saja angka penyebut yang bisa dipakai oleh kedua pecahan itu. 1/8, penyebutnya menjadi 24.

Penyebut 1/3 menjadi 24 juga. Maka yang 1/8 menjadi 3/24 dan yang 1/3 menjadi 8/24 baru ditambahkan.

Hasilnya, 11/24. Mengerti...?

Sekar menggeleng lagi sehingga Joko menyemburkan kemarahan yang sejak tadi ditahannya.

Kamu itu payah sekali. Sudah, nanti pelajari dan cermati contoh-contoh lain yang akan kutulis di kertas ini. Sekarang pekerjaan rumah yang tentang persen-persenan itu dulu. Kalau tidak, bisa-bisa aku terpaksa harus tidur larut malam gara-gara mengajari kamu.

Ya..., Sekar menjawab pelan. Kalau tidak, gelombang suaranya yang mulai diwarnai tangis, bisa terdengar oleh telinga Joko. Dia tidak ingin pemuda tanggung itu melihat tangisnya.

Satu persen, berarti 1/100 bagian. Itu kamu pasti sudah tahu. Ya, kan?

Ya, saya tahu...

Jadi, kalau 10 % berarti 10/ 100 bagian. Disingkat atau dikecilkan angkanya menjadi 1/10 bagian. Itu juga sudah kauketahui, kan?

Sekar menganggukkan kepalanya. Joko merasa lega.

Ia melanjutkan lagi penjelasannya.

Nah, sekarang perhatikan apa yang ditanyakan dalam soal PR-mu ini yaitu  bagian dari 100 % ditambah  bagian. Nah, jadi berapa persen jumlahnya?

Sekar berpikir sebentar.

3/4 bagian berarti 40 % dan  bagian...

Tunggu dulu, dari mana 40 % yang kaudapatkan itu? Tolol dan ngawur saja kamu itu! Joko mulai membentak keras.

Semakin dibentak, Sekar menjadi semakin kalut dan otaknya tidak bisa diajak berpikir. Air mata yang sempat mengering tadi, datang lagi dan mulai menggenangi matanya. Tetapi kali itu Joko tidak peduli. Biar saja kalau Sekar mau menangis. Dia mempunyai alasan.

Dirinya sendiri pun sedang menghadapi soal-soal PR yang bukan saja dirasa terlalu banyak, tetapi juga sulit.

Sudah begitu, Sekar sulit diajari. Entah ada di mana daya tangkapnya. Jadi Joko berani melampiaskan kejengkelannya.

Jawab pertanyaanku, Sekar. Dari mana kamu mendapat angka 40 % itu. Aku harus tahu supaya bisa mengikuti jalan pikiranmu yang salah itu, Joko membentak lagi.

Sekar masih tetap membisu. Dia tidak ingin bersuara, sebab jika membuka mulutnya, maka tangisnyalah yang lebih dulu keluar. Padahal ia tidak ingin menangis di hadapan pemuda remaja yang hari ini tampak galak sekali. Sayangnya, Joko tidak memaklumi perasaan Sekar. Melihat Sekar tidak mau menjawab pertanyaan nya, pemuda itu menggebrak meja tulisnya.

Heran aku, Sekar! bentaknya kemudian. Masa soal semudah ini kamu tidak bisa menjawabnya. Dulu aku juga mendapat PR yang seperti ini. Tetapi semuanya kukerjakan sendiri tanpa minta bantuan siapa pun.

Mbak Endang dulu tidak pernah kuganggu. Apalagi kalau dia juga sedang belajar. Tetapi nilai pelajaranku selalu tinggi. Raporku bagus. Tetapi kau yang sering kubantu dan kuajari, tidak juga bisa menangkap pelajaran yang kuberikan. Apa yang kuterangkan cuma masuk ke ujung telingamu saja. Kau seperti orang dungu. Heran aku. Otakmu sebesar apa sih kok goblok betul kamu ini.

Sepanjang pengalamannya belajar dengan Joko, baru sekarang pemuda remaja itu mengeluarkan kata-kata hinaan seperti itu. Karenanya tangis Sekar lenyap dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya langsung menguap. Harga diri gadis kecil itu tersentuh secara telak. Dia tidak bisa menerima kata-kata kasar Joko tadi. Apalagi tidak pernah sebelum ini Joko melontarkan perkataan setajam itu. Meskipun sering bersungut-sungut dan tidak sabaran, Joko tidak pernah mengata-ngatainya seperti apa yang baru saja didengarnya tadi. Maka Sekar menatap mata Joko dengan tatapan tajam dan api amarah yang membakar dadanya.

Sedemikian tersinggungnya perasaan Sekar sampai dia melupakan kedudukannya. Dengan gerakan kasar, bukunya yang masih terletak di atas meja tulis Joko, ditariknya. Mata yang semula digenangi air mata, kini terisi api yang tampak berkilat-kilat. Dengan api itulah Sekar menatap mata Joko untuk kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar pemuda remaja itu. Dengan napas terengah-engah menahan perasaan, gadis cilik itu melangkah keluar dan menyeberangi taman di halaman belakang.

Kamu seperti orang dungu. Otakmu sebesar apa sih, goblok amat. Otakmu sebesar apa sih, goblok betul kamu itu. Otakmu sebesar...

Kata-kata itu seperti lecutan di kepala Sekar dan terus terngiang-ngiang di telinganya saat dia berlari-lari kecil menuju ke bagian belakang rumah besar itu, sampai akhirnya gadis kecil itu merasa tidak tahan lagi.

Langkah kakinya langsung terhenti. Matanya yang besar semakin tampak besar. Perkataan Joko seperti menyungkup kepalanya. Ingin sekali ia mengibaskannya.

Tetapi alangkah sulitnya. Kata-kata hinaan itu bahkan semakin kuat berdengung di telinga dan kepalanya, berulang-ulang sehingga menyiksa perasaannya. Ia harus melakukan sesuatu untuk melawan perkataan yang menyinggung harga dirinya itu. Begitulah Sekar terus bergulat dengan pikirannya sambil berdiri tegak di atas jalan setapak yang terbuat dari batu-batu alam.

Setelah membulatkan tekad, akhirnya Sekar membalikkan tubuhnya. Digerakkan oleh api amarah dan harga dirinya yang terluka, bergegas ia kembali ke kamar Joko. Di ambang pintu kamar pemuda tanggung itu, Sekar mendesiskan kemarahannya sehingga pemilik kamar yang sedang menekuni pekerjaan rumahnya itu menoleh ke arahnya.

Den Bagus... Sebelum Joko sempat berkata apa pun, cepat-cepat Sekar mendahuluinya bicara. Saya tidak goblok. Mulai sekarang, saya tidak akan bertanya apa pun mengenai pelajaran pada Den Bagus. Tetapi saya bersumpah, tahun ini akan menjadi salah satu juara kelas lima pada kenaikan kelas nanti. Akan saya tunjukkan bahwa saya tidak goblok seperti perkataan Den Bagus tadi.

Joko ternganga beberapa saat lamanya. Baru kali itu ia melihat Sekar memperlihatkan kemarahannya. Maka begitu menyaksikan wajah Sekar dengan matanya yang besar dan berkilat-kilat itu menatap sengit ke arahnya, sadarlah Joko bahwa sikapnya tadi sudah melewati ambang kewajaran bagi Sekar yang perasa dan lembut hati itu. Ia telah menyinggung harga diri gadis cilik itu. Bagaikan seekor kucing lembut yang tiba-tiba ekornya diinjak, Sekar telah memperlihatkan taring-taringnya.

Namun Joko yang selalu ditempatkan di atas angin itu mana mau mengakui kesalahannya? Pantang baginya menunjukkan rasa sesalnya. Malahan dengan kepala mengedik dan air muka yang menyiratkan tantangan, ia membalas perkataan Sekar tadi.

Coba saja. katanya. Aku ingin melihat bukti bicaramu. Kita taruhan?

Sekar mengetatkan bibirnya beberapa detik lamanya, baru kemudian menjawab tantangan yang dilontarkan Joko tadi.

Baik. Jangan sebut namaku Sekar lagi kalau tidak berhasil menunjukkan bukti pertaruhan, sahutnya, meniru perkataan salah satu tokoh cerita yang pernah dibacanya. Ia sudah nekat. Apa pun yang akan terjadi, dia harus naik ke kelas enam dengan nilai tinggi yang layak untuk menjadi salah satu bintang kelas.

Di balik jawaban atas tantangan Joko malam itu, sebenarnya Sekar juga berpegang pada apa yang bisa ditirunya dari tokoh cerita yang dikaguminya. Dia sudah membacanya beberapa kali dan setiap selesai membaca kisah tokoh tersebut, setiap kali pula tumbuh semangat juangnya. Kini semangat itu harus diperlihatkannya secara nyata agar kata-kata yang diucapkannya kepada Joko tadi tidak hanya sekadar kata-kata belaka, tetapi terbukti secara nyata. Maka seperti kesetanan, Sekar mulai belajar mati-matian dan mencoba memahami pelajaran yang diterimanya di sekolah, mengapa ini begini jadinya dan mengapa itu begitu hasilnya. Tanpa kenal putus asa, Sekar belajar dengan giat. Di sekolah, semua pelajaran diperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Kalau ada hal-hal yang kurang dimengerti, tidak segan-segannya ia datang ke gurunya dan menanyakannya sampai mengerti betul. Di rumah, dia mengulang dan mempelajarinya kembali. Melihat semangat gadis kecil itu, gurunya merasa senang dan dengan gembira memberinya tambahan-tambahan pengetahuan yang berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan Sekar. Setiba di rumah, semua pelajaran yang didapatnya di sekolah itu diulangi oleh Sekar hingga ia benar-benar mengerti. Gadis cilik itu bahkan merasa heran sendiri bahwa ternyata semakin banyak pengetahuan yang diserapnya, semakin ia ingin mengetahui lebih banyak lagi. Di sekolah, ia sering meminjam buku-buku dari perpustakaan yang sekiranya dapat menambah pengetahuannya. Kalau ingin meminjam buku cerita, ia selalu memilih buku yang memberi tambahan wawasan, sebab ternyata dari buku cerita pun ada banyak pengetahuan baru yang bisa diserapnya.

Misalnya tentang budaya atau sejarah tertentu yang melatarbelakangi ceritanya. Maka kalau semula dia belajar demi menunjukkan kepada Joko bahwa ia tidak bodoh seperti apa katanya, namun lama-kelamaan timbul rasa senang dan keasyikan dalam dirinya setiap otaknya terisi pengetahuan yang semula tidak diketahuinya. Begitupun pengetahuan yang diterimanya di sekolah tidak sekadar dihafal hanya demi mencari nilai tinggi, namun untuk memenuhi keingintahuannnya.

Ketika kenaikan kelas tiba, Sekar merasa dialah satu-satunya anak yang paling berbahagia di dunia ini.

Ia menjuarai seluruh kelas lima yang jumlahnya ada tiga kelas. Waktu dengan tangannya sendiri Sekar menyerahkan rapornya kepada kedua orangtua Joko saat mereka sekeluarga sedang duduk di teras samping, ia merasa bagaikan pahlawan menang perang. Apalagi ada Endang yang datang berkunjung bersama kedua anaknya. Dada Sekar seperti mau meledak ketika menyaksi- kan betapa kedua orangtua Joko mengagumi nilai-nilai yang tercantum di dalam rapornya.

Bukan main bagusnya rapormu ini, Sekar, begitu Pak Suryokusumo, ayah Joko, memuji Sekar dengan wajah ramai terhias senyum.

Aduh, juara kelas. Luar biasa kamu, Nduk, Ibu Suryokusumo menyambung komentar sang suami sambil tertawa gembira.

Seluruh jerih-lelah Sekar serasa terusap melihat betapa gembiranya kedua majikan ibunya itu. Apa yang diucapkannya kepada Joko bahwa ia akan menjadi juara kelas, melebihi apa yang diharapkannya. Ia menjadi juara pertama seluruh kelas lima yang ada di sekolahnya.

Dengan penuh rasa ingin tahu karena melihat kegembiraan kedua orangtuanya, Joko mengambil rapor yang terletak di atas meja. Dengan rasa bangga, Sekar berkata kepada pemuda remaja itu.

Saya menjadi juara seluruh kelas lima di sekolah yang jumlahnya ada tiga kelas, katanya.

Mendengar suara Sekar yang bergelombang penuh rasa bangga namun malu-malu itu, Joko menatap wajah gadis cilik itu. Seketika itu juga ia teringat pada wajah sama yang matanya berkilat-kilat mengucapkan sumpah di ambang pintu kamarnya, tujuh bulan yang lalu. Sumpah itu telah terbukti. Bahkan melebihi apa yang bisa dicapainya.

Untuk sesaat lamanya pipi Joko merona merah. Tetapi jauh di dalam hatinya ia menaruh penghargaan tinggi kepada gadis kecil yang mempunyai tekad besar itu.

Anak perempuan pengasuhnya itu bukan hanya cantik wajahnya saja, tetapi juga memiliki harga diri yang tinggi dan kemauan yang kuat. Berbulan-bulan sebelum ini ia sering disinggahi rasa cemas kalau-kalau nilai Sekar menurun dan lalu tidak naik kelas, karena selama ini tak pernah lagi anak itu datang mencarinya untuk min ta diajari. Kalau sampai Sekar tidak naik kelas, pasti kedua orangtuanya akan memarahinya karena tidak memperhatikan pelajaran anak itu. Namun di balik kecemasan itu Joko juga ingin memenangkan pertaruhan, melihat Sekar tidak mampu memenuhi sumpahnya.

Tetapi kenyataannya, dirinyalah yang kalah. Kalah total pula. Bukan Sekar, yang dianggapnya bodoh.

Sekarang Joko merasa malu sebab mengira dirinya akan menang taruhan (Meskipun jika menang, ia pasti akan mendapat jeweran dan teguran keras dari kedua orangtuanya. ) Dengan rasa malu yang hanya bisa dimengerti oleh Sekar, Joko meletakkan kembali rapor Sekar ke atas meja. Tetapi Endang memintanya.

Coba kulihat rapor itu, Dimas, katanya.

Joko mengambil kembali rapor itu dari atas meja dan menyerahkan kepada sang kakak. Ketika melihat angka-angka pada rapor Sekar, Endang langsung mende-cakkan lidahnya berulang-ulang.

Ini sungguh hebat, pujinya. Sekar harus diberi hadiah, Bu.

Itu pasti. Ibunya tersenyum.

Sekar hanya tertawa saja. Baginya hadiah sehebat apa pun tidak sama nilainya dengan rasa bangga dan kemenangan yang sejak tadi memenuhi rongga dadanya.

Terutama saat rapornya dilihat Joko. Terlebih-lebih lagi karena kemenangannya hari itu menjadi tonggak sejarah perjuangan Sekar di masa-masa berikutnya dan menjadi titik tolak dari perjalanannya sebagai seorang pelajar. Dia lulus SD dengan nilai tinggi sekali. Di SMP menjadi bintang pelajar. Di SMU menjadi murid teladan, karena hampir selalu menduduki juara pertama. Beberapa kali pula mewakili sekolahnya dalam lomba pengetahuan dan menjadi juara sehingga sekolahnya mendapat nama yang harum.

Melihat prestasi Sekar, kedua orangtua Joko ingin menyekolahkannya ke jenjang lebih lanjut. Bahkan Endang menyediakan diri untuk ikut menyumbang biaya kuliahnya agar tidak terlalu memberatkan kedua orangtuanya yang saat itu masih membiayai Joko yang baru mulai kuliah di luar negeri.

Kamu ingin kuliah di mana? Mereka bertanya pada yang bersangkutan begitu Sekar lulus SMU, bertahun-tahun yang lalu.

Saya ingin menjadi guru, sahut Sekar dengan suara pasti.

Aduh, apa tidak sayang? Kamu sangat pandai, Sekar. Kenapa tidak memilih menjadi ekonom atau insinyur? Endang langsung bereaksi. Kami senang dan ikhlas membiayai kuliahmu sampai selesai.

Sekar tersenyum. Itulah perkataan yang juga sering dilontarkan oleh para orangtua jika anaknya ingin menjadi guru.

Den Roro, kalau setiap orang berpikir seperti itu, mau dibawa ke mana mutu pendidikan di Indonesia ini? Justru mereka yang memiliki otak cemerlang harus menjadi guru, karena merekalah yang akan mendidik dan mentransfer pengetahuan kepada para anak didik mereka. Kalau soal gaji yang menjadi masalah, sekarang ini gaji guru sudah lebih baik daripada kemarin-kemarin. Saya ingin menjadi guru dan kalau memungkinkan, saya akan melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi untuk nantinya menjadi dosen, kata Sekar, penuh keyakinan.

Ketiga orang yang mendengar pendapat Sekar itu tidak bisa membantah. Alasan yang dikatakannya, tidak salah. Apalagi cita-cita gadis itu sungguh mulia.

Ke mana kau akan kuliah nanti?

Saya ingin kuliah di Yogya. Ada universitas pendidikan guru yang bagus di sana, Sekar menjawab dengan pasti. Dia sudah mencari informasi.

Maka begitulah, dengan mulus Sekar diterima kuliah di Yogya. Ia tinggal di rumah keluarga almarhum ayahnya, seorang pensiunan pegawai bank yang menyewakan kamar-kamarnya untuk mahasiswi dari luar kota. Empat tahun kemudian, Sekar kembali ke Jakarta, menyan-dang gelar sarjana pendidikan dengan nilai suma cum laude. Seluruh keluarga merasa puas. Sayangnya Joko yang sedang menyelesaikan kuliahnya di luar negeri tidak mengetahuinya.

Apa rencanamu setelah keberhasilanmu itu, Sekar?

tanya Pak Suryokusumo setelah menerima berita baik itu.

Saya akan mengajar di SMU selama beberapa tahun lebih dulu, baru nanti melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, sahutnya. Pertama, untuk mencari pengalaman. Kedua, supaya saya mempunyai uang untuk membiayai kuliah selanjutnya nanti. Saya tidak ingin lagi dibiayai oleh siapa pun.

Kini telah dua tahun lebih lamanya Sekar, yang sekarang hampir berusia seperempat abad, menjadi guru di SMU swasta terkenal. Seiring dengan bertambahnya umur dan pengetahuan serta pengalaman yang diserapnya di sepanjang kariernya sebagai guru, Sekar tumbuh menjadi gadis yang matang, bijak, dan menjadi guru favorit yang tak hanya dicintai para muridnya, tetapi juga menjadi tempat mereka bertanya. Bahkan juga tempat bertanya bagi para orangtua jika anak mereka mengalami kesulitan dalam studi mereka atau menghadapi hal-hal lain yang perlu penanganan serius.

Setiap menyadari keberuntungan dan sukses yang telah dicapainya, Sekar selalu teringat kepada Joko. Kalau bukan karena hinaannya:  otakmu sebesar apa kok goblok amat sih kamu, belum tentu ia berhasil mencapai kesuk-sesan yang sekarang diraihnya. Karena Joko-lah maka timbul daya juang yang sedemikian besar dan tekad yang begitu bulat untuk menunjukkan kemampuannya.

Kalau bukan karena tantangan Joko yang ingin melihat bukti keberhasilannya, belum tentu pula Sekar ingin menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Sejauh ini, dia telah berhasil meskipun masih selangkah lagi yang harus diraihnya, yaitu mencapai gelar Magister Pendidikan.

Tidak bisa dipungkiri, cita-cita itu belum tentu ia miliki kalau Joko dulu tidak menantangnya dengan kata-kata: Coba sajalah. Aku ingin melihat bukti bicaramu itu!

No comments:

Post a Comment

KopDar Sabtu 8 Feb 25

Kopdar di kediaman Bapak Djarot R. Suseno di  Bumi Karang Indah Blok A6 No. 9 LebakBulus pada Sabtu 8 Februari 2025 dengan tema Ulang tahun ...